LOKAKARYA STUDI RESTORASI SUNGAI MARTAPURA

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

MARTAPURA – Ruang  terbuka  hijau  merupakan  bagian  penting  dari  struktur  pembentuk  kawasan,  dimana  ruang  terbuka  hijau  memiliki  fungsi  utama  sebagai  penunjang  ekologis  kawasan  yang  juga diperuntukkan  sebagai  ruang  terbuka  penambah  dan  pendukung  nilai  kualitas  lingkungan  dan budaya  suatu  kawasan.  Keberadaan  ruang  terbuka  hijau  sangatlah  diperlukan  dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan. Ruang terbuka hijau memiliki  dua  fungsi  utama,  yaitu  fungsi  intrinsik  sebagai  penunjang  ekologis  dan  fungsi  ekstrinsik  yaitu  fungsi  arsitektural  (estetika),  fungsi  sosial  dan  ekonomi.  Ruang  terbuka  hijau  dengan  fungsi ekologisnya bertujuan untuk  menunjang keberlangsungan fisik suatu kawasan dimana ruang terbuka hijau  tersebut  merupakan  suatu  bentuk  ruang  terbuka  hijau  yang  berlokasi,  berukuran  dan  memiliki  bentuk  yang  pasti  di  dalam  suatu kawasan.  Sedangkan  ruang  terbuka  hijau  untuk fungsi-fungsi  lainnya  (sosial,  ekonomi,  arsitektural)  merupakan  ruang  terbuka  hijau  pendukung  dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kawasan tersebut, sehingga dapat berlokasi dan  berbentuk  sesuai  dengan  kebutuhan  dan  kepentingannya,  seperti  untuk  keindahan,  rekreasi,  dan  pendukung  arsitektur. Proporsi  30%  luasan  ruang  terbuka  hijau  kawasan  diantaranya terdiri dari 20% untuk publik dan 10% untuk privat merupakan  ukuran  minimal  untuk  menjamin  keseimbangan  ekosistem  baik  keseimbangan  sistem  hidrologi  dan  keseimbangan  mikroklimat,  maupun  sistem  ekologis  lain  yang  dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, ruang terbuka bagi aktivitas  publik serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kawasan. Daerah Sempadan Sungai, khususnya diperkotaan yaitu sungai yang membelah kota, dimana pemenuhan 20% RTH untuk publik, 2% diharapkan berasal dari RTH sempadan sungai, sekaligus sebagai  kawasan  yang  berfungsi  sebagai penyangga erosi yang terjadi pada pinggiran sungai, sehingga sungai dapat terjaga dari perluasan atau penyempitan aliran sungai yang diakibatkan lonsor atau erosi. Namun kenyataannya sempadan sungai hanya sebahagian yang ditanami pepohonan yaitu daerah pinggiran tanggul, sehingga sempadan sungai diharapkan bisa dimanfaatkan secara optimal dalam penataan RTH.

Demikian pula dengan perkembangan kawasan permukiman di sungai Martapura yang mengakibatkan menyusutnya kawasan ruang terbuka hijau ditepi sungai yang berakibat semakin berkurangnya daya dukung lingkungan.  Untuk mencegah agar kondisi sungai Martapura tersebut agar tidak mengalami penurunan daya dukung lingkungan yang drastis maka perlu dilakukan upaya konservasi atau restorasi (pemulihan kondisi).

Berdasarkan hal tersebut maka Pemerintah Kabupaten Banjar berupaya melakukan restorasi tersebut melalui kegiatan koordinasi penyusunan masterplan pengendalian sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan melaksanakan pekerjaan studi restorasi sungai Martapura tersebut.

Sehubungan dengan kegiatan tersebut Senin (29/08), bertempat di aula Baiman lantai III Bappeda Kabupaten Banjar dilaksanakan lokakarya atau pertemuan antar stake holder’s dan para ahli terkait yang ruang lingkup kerjanya berhubungan dengan masterplan yang akan disusun tersebut.  Acara yang dipimpin Kasubbid bidang Permukiman, Pengairan, Komunikasi dan Lingkungan Hidup Bahruddin ini menghadirkan narasumber konsultan perencana Nadiputra Pratama Dody Oskandar,dkk.

Dalam sambutannya Riza Dauly menyampaikan adapun maksud dari kegiatan masterplan ini adalah untuk menyusun perencanaan kegiatan restorasi yang dilakukan di sungai Martapura dengan upaya-upaya sipil teknis, penataan lingkungan, pendekatan kelembagaan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sungai dengan tujuan memberikan hasil pengamatan konsisi eksisting sungai Martapura, memberikan acuan pelaksanaan restorasi sungai Martapura jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang serta memberikan skenario peran serta masyarakat dalam pengelolaan sungai tersebut, dll.

Adapun Dody Oskandar dalam paparannya menyebutkan dalam pengerjaan masterplan ini mereka melalui berbagai macam tahapan dimana lokasinya meliputi beberapa desa di dua wilayah Kecamatan yaitu Martapura Timur dan Martapura Barat.

“Kondisi eksisting yang ada adalah belum adanya tanggul, keruskan sebagian tanggul, adanya rumah-rumah  disepanang sungai, masih adanya mck liar/jamban disepanjang bantaran sungai serta banjir  yang terjad setiap tahunnya” menurutnya lagi. “oleh karena itu diperlukan perbaikan atau pembuatan tanggul, penanamam pohon sepanjang sungai, menghilangkan MCK dan bangunan liar sepanjang sungai, serta pembersihan tanaman liar disepanjang sungai” tambahnya.

“Dengan terciptanya masterplan ini maka aan tersedianya desain dasar restorasi sungai Martapura yang secara teknis dapat mengoptmalkan pengelolaan sungai Martapura”tutupnya.(ADB/FP)

 

Source:: BAPPEDA

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Berita Lainnya More from author

Comments

Loading...
X